Jakarta - Sudah dua tahun emak tinggal bersamaku, meninggalkan desa yang sunyi setelah bapak pergi mendahului. Aku ingin merawatnya, ingin membalas meski hanya seujung kuku dari segala cinta dan pengorbanannya.
Namun, semakin hari, kesabaranku diuji. Emak yang dulu pendiam, kini banyak maunya. Cerewetnya seakan tak berkesudahan. Mulai dari makanan, pakaian, hingga kebiasaan anak-anakku—semuanya tak luput dari komentarnya. Aku menahan, aku mencoba mengerti, tapi terkadang lelah itu datang, menyelusup di sela-sela kesibukan dan tuntutan hidup.
Pagi itu, batas kesabaranku runtuh. Emak mencari cangkul di saat aku sibuk mengurus anak-anak dan bersiap ke kantor. Dengan suara tinggi, aku membentaknya. Wajahnya yang semula penuh permintaan berubah sendu. Tapi aku pergi, meninggalkannya tanpa menoleh.
Di perjalanan, kata-kata anakku menusuk hati. "Mama juga dulu rewel, tapi nenek bilang itu artinya mama pintar." Aku terdiam. Bagaimana mungkin aku tak menyadari? Aku dan emak sama, hanya saja aku mudah menghakiminya.
Pulang dengan hati yang dipenuhi sesal, aku mencari emak. Dan di sanalah dia, menggali tanah dengan pisau kecil. "Emak cari jahe merah buat wedang, semalam dengar kamu batuk gak berhenti, " katanya pelan, penuh kasih yang tak pernah berubah.
Duniaku seakan berhenti. Emak tak menyimpan marah, hanya cinta yang tetap sama. Air mataku tumpah, aku memeluknya erat. "Maafkan aku, Mak..."
Emak tersenyum, tangannya yang kasar mengusap pundakku. "Gak apa, kamu cuma lelah..."
Ya Allah, betapa lemahnya hatiku. Begitu cepat emosi mengalahkan cinta. Padahal emak tak meminta banyak, hanya sedikit pengertian, sedikit sabar, sedikit kasih yang tak sebanding dengan pengorbanannya dulu.
"Setiap orang tua menghabiskan hidupnya merawat anaknya, tapi tidak semua anak bisa tulus merawat orang tuanya, meski hanya untuk beberapa tahun."
Lindafang; March 2025