Bukittinggi - Langit sore itu berwarna jingga keemasan. Aku duduk di bangku taman sekolah, memandangi dedaunan yang berguguran tertiup angin. Hatiku terasa kosong, seolah ada sesuatu yang dicuri dariku. Bukan harta, bukan barang—tapi kepercayaan dan rasa aman yang selama ini kujaga.
Semua ini bermula dari seseorang yang dulu kupanggil sahabat: Liana.(samaran).
Liana, adalah sosok yang ceria. Ia mudah akrab dengan siapa saja, selalu punya cara untuk membuat orang tertawa. Aku merasa beruntung mengenalnya. Kami berbagi banyak hal—rahasia, cerita sedih, hingga impian-impian masa depan. Ia seperti saudara bagiku. Aku percaya padanya sepenuhnya.
Namun, kepercayaan itu berubah menjadi luka yang mendalam.
Awalnya, tanda-tanda pengkhianatan itu samar. Teman-teman mulai bersikap aneh. Bisikan-bisikan terdengar saat aku melewati mereka. Tatapan yang dulu ramah kini penuh prasangka. Aku mencoba mengabaikannya, berpikir bahwa itu hanya perasaanku saja.
Hingga suatu hari, seorang teman bernama Maya (samaran ) menghampiriku. Wajahnya ragu-ragu, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi takut.
"Aku gak tahu harus ngomong apa, tapi… aku pikir kamu harus tahu, " katanya pelan.
Aku mengerutkan kening. "Tahu apa?"
Maya menggigit bibirnya, lalu menghela napas. "Liana bilang kamu sering ngomongin orang di belakang. Katanya kamu gak suka sama kami semua dan cuma pura-pura baik."
Dunia seakan berhenti berputar. Aku menatap Maya, berharap ia hanya bercanda. Tapi dari raut wajahnya, aku tahu ini nyata.
"Apa?" suaraku nyaris berbisik.
Maya menunduk. "Bukan cuma aku yang dengar. Dia bilang itu ke banyak orang. Katanya, kamu suka menjatuhkan teman sendiri."
Aku merasa tenggorokanku kering. Bagaimana mungkin seseorang yang kuanggap saudara bisa mengatakan hal seperti itu?
Aku berusaha menyangkal, menjelaskan, tapi luka yang ditinggalkan Liana terlalu dalam. Teman-teman sudah terpengaruh ucapannya. Tak ada yang benar-benar percaya padaku lagi. Aku mencoba berbicara dengan Liana, tapi dia hanya tersenyum seolah tak terjadi apa-apa.
"Aku cuma bilang apa adanya, " katanya ringan.
Hatiku mencelos. Aku ingin marah, ingin berteriak, ingin menanyakan alasannya. Tapi aku sadar, orang seperti dia tidak akan pernah mengakui kesalahannya.
Hari itu, aku pulang dengan dada sesak. Aku kehilangan sesuatu yang berharga—bukan hanya seorang sahabat, tapi juga kepercayaanku pada banyak orang.
Namun, dari kejadian itu, aku belajar bahwa tidak semua orang yang tersenyum padamu benar-benar tulus. Ada yang hanya menunggu waktu untuk menancapkan belati di punggungmu.
Dan kini, aku memilih untuk berhati-hati. Aku tidak lagi mudah percaya. Aku tidak ingin terjebak dalam luka yang sama untuk kedua kalinya.
Penulis ; Lindafang
March 2025