GenPI.co - Kampanye media yang dilancarkan Arab Saudi terhadap Uni Emirat Arab (UEA) memperuncing perselisihan di kawasan Teluk.
Situasi ini memicu kekhawatiran akan dampak negatif terhadap stabilitas kawasan, termasuk di pusat keuangan utama Timur Tengah.
Media pemerintah dan media sosial dipenuhi tuduhan keras, mulai dari pelanggaran hak asasi manusia hingga pengkhianatan.
BACA JUGA: Aliansi Teluk di Ujung Tanduk, Arab Saudi dan UEA Tidak Lagi Sejalan
Dalam kondisi normal, monarki-monarki Teluk berupaya keras mempertahankan citra perdamaian dan stabilitas.
"Kini ketegangan yang telah lama terpendam muncul secara terbuka dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya," ujar analis keamanan Anna Jacobs, dilansir AFP, Selasa (27/1).
BACA JUGA: Al Nassr Sempurna di 10 Laga Awal, Ronaldo Bisa Raih Gelar Liga Arab Saudi
Jacobs mengatakan Riyadh sangat jelas menyoroti keberatannya terhadap kebijakan regional Abu Dhabi dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda.
Meski demikian, sejauh ini Abu Dhabi cenderung memilih sikap diam.
BACA JUGA: Loyal Tanpa Batas, Paolo Maldini Tolak Arab Saudi Demi AC Milan
"UEA tidak terbiasa memprovokasi kakak besar," kata pakar ilmu poitik Abdulkhaleq Abdulla.
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News


















































