GenPI.co - Gema boikot produk asing di China mulai kehilangan taringnya seiring dengan perubahan prioritas warga yang lebih memilih kualitas dan gaya hidup ketimbang narasi nasionalisme.
Nasionalisme tidak lagi otomatis menentukan pilihan konsumsi.
Analis konsumen independen Yaling Jiang mengatakan geopolitik tidak sepenuhnya menentukan perilaku pasar di tingkat lokal.
BACA JUGA: Vladimir Putin dan Xi Jinping Beber Arah Baru Hubungan Rusia-China
"Konsumen China kini lebih pragmatis. Mereka mencampur merek domestik dan asing sesuai selera," ujarnya, dilansir AP News, Sabtu (14/2).
Ketegangan dengan Jepang, misalnya, mencuat setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi memberikan pernyataan terkait kemungkinan intervensi militer jika terjadi serangan terhadap Taiwan.
BACA JUGA: Hadapi Tekanan China, Taiwan Tegaskan Hubungan dengan Amerika Serikat Sangat Kuat
Beijing mengambil langkah pembatasan perdagangan dan mengeluarkan peringatan perjalanan bagi wisatawan China ke Jepang.
Dampaknya terasa pada industri pariwisata Jepang dengan penurunan signifikan jumlah wisatawan asal China.
BACA JUGA: Timnas Indonesia U-17 Dikalahkan China 0-7, Nova Arianto: Jauh dari Harapan
Namun, antusiasme terhadap produk dan budaya Jepang tidak sepenuhnya surut.
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News


















































