GenPI.co - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengurangi kuota produksi batu bara dan nikel melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Kebijakan tersebut mendapat sambutan positif dari kalangan akademisi.
Langkah itu dinilai tepat untuk mengembalikan keseimbangan pasar komoditas energi.
BACA JUGA: 4 Makanan Sehat untuk Santap Malam, Tempe Sumber Energi
Pengamat ekonomi energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti mengatakan pemangkasan produksi diperlukan setelah harga batu bara Indonesia sempat kehilangan daya saing akibat pasokan yang terlalu melimpah.
Menurut dia, produksi yang berlebihan bisa menekan harga dan merugikan pelaku usaha.
BACA JUGA: Kendall Jenner Suka Pilates, Cara Mudah Agar Wanita Sibuk Tetap Energik
"Dengan produksi yang terkendali, harga bisa bergerak stabil. Ini menyediakan ruang bagi pengusaha batu bara untuk tetap memperoleh margin keuntungan yang wajar," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (20/1).
Yayan menyebut kebijakan serupa juga relevan diterapkan pada komoditas nikel.
BACA JUGA: Kopi Berprotein Jadi Minuman Andalan Pencinta Kebugaran, Bisa Dongkrak Energi
Indonesia saat ini menguasai 50-60 persen pasokan nikel dunia, sehingga setiap kebijakan produksi memiliki dampak signifikan terhadap pasar global.
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News


















































