GenPI.co - Presiden Palestina Mahmoud Abbas masih memegang kendali atas wilayah-wilayah kecil di Tepi Barat.
Namun, kekuasaannya makin terpinggirkan oleh Israel, merosot di mata publik Palestina, dan hampir tidak memiliki pengaruh di Gaza pascaperang.
Abbas, presiden tertua kedua di dunia setelah Paul Biya dari Kamerun, telah berkuasa selama dua dekade tanpa pernah menyelenggarakan pemilu.
BACA JUGA: Gaza Hadapi Ledakan Wabah Penyakit, WHO: Rumah Sakit Nyaris Tidak Berfungsi
Kondisi ini dianggap pengamat sebagai salah satu penyebab hilangnya kepemimpinan efektif di tengah krisis eksistensial rakyat Palestina dan memudarnya prospek negara merdeka, agenda utama Abbas.
Palestina menilai serangan Israel terhadap Hamas yang menghancurkan Gaza sebagai tindakan genosida, pandangan yang dibenarkan sejumlah pakar hukum internasional dan berbagai negara serta organisasi.
BACA JUGA: Gencatan Senjata Tanpa Harapan: WHO Sebut Kondisi Kemanusiaan Gaza Tetap Parah
Israel membantah tuduhan itu dan memperketat kendali di Tepi Barat, di mana permukiman Yahudi terus meluas serta kekerasan pemukim meningkat.
Sementara itu, sekutu sayap kanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mendorong aneksasi langsung wilayah tersebut, langkah yang berpotensi menghapus peluang terbentuknya negara Palestina.
BACA JUGA: Pendidikan di Gaza Nyaris Lumpuh Total, UNICEF Sebut Generasi yang Hilang
Amerika Serikat hingga kini mengikuti sikap Israel yang menolak memberikan mandat kepada Otoritas Palestina (PA) untuk mengelola Gaza pascaperang.
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News


















































