Mengetuk Sebongkah Batu

1 week ago 10

Lelaki itu jutek.

Wajahnya jarang memamerkan senyum.
Kata-katanya pendek, seperlunya saja.
Tak ada rayuan manis, tak pula puisi cinta yang melangit.
Ia juga bukan lelaki yang pandai merangkai perhatian kecil untuk menyenangkan hati perempuan.

Namun entah mengapa, aku kagum.

Barangkali karena di balik sikap dinginnya, ada keteguhan yang jarang dimiliki banyak orang.
Ia seperti sebongkah batu di tepi sungai....diam, keras, dan tampak biasa saja. Tetapi justru karena itulah ia tetap berdiri saat arus deras menghantam.

Ia memang tidak mempersona seperti lelaki-lelaki yang pandai mengambil hati.
Penampilannya sederhana.
Tak banyak gaya.
Tak sibuk mencari pujian.
Namun ketika ia berjalan, ada wibawa yang sulit dijelaskan.
Orang-orang mendengarkan saat ia berbicara.
Orang-orang mengikuti saat ia memberi arah.

Ia pandai memimpin.

Bukan dengan suara keras atau amarah yang meledak-ledak, melainkan dengan ketegasan yang membuat orang segan.
Ia tahu kapan harus diam.
Ia tahu kapan harus berdiri paling depan saat keadaan sulit datang.

Dan mungkin, justru karena ia jutek, banyak orang salah menilainya.

Mereka mengira ia dingin.
Padahal ia hanya tak pandai menunjukkan isi hati.
Mereka mengira ia tak peduli.
Padahal diam-diam ia memperhatikan semuanya.

Aku pernah melihatnya membantu tanpa ingin dipuji.
Pernah melihatnya lelah, namun tetap bertahan demi orang lain.
Dan dari situ aku mengerti, tidak semua lelaki hebat hadir dengan kata-kata manis.

Ada lelaki yang menunjukkan kasih sayang lewat tanggung jawab.
Lewat kerja keras.
Lewat kesediaan memikul beban tanpa banyak bicara.

Ia seperti batu, ....keras di luar, namun kokoh untuk bersandar.

Dan diam-diam, lelaki seperti itulah yang sering meninggalkan kesan paling dalam.

Bukittinggi, Mei 2026

Read Entire Article
Kuliner | Cerita | | |