GenPI.co - Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) mengirimkan surat terbuka kepada United Nations Children’s Fund (UNICEF) terkait tragedi anak SD di NTT bunuh diri.
Seorang anak SD di NTT bunuh diri karena diduga tidak mampu membeli pulpen dan buku sekolah seharga kurang dari Rp10.000.
Surat bertanggal 5 Februari 2026 dengan kop resmi Student Executive Board of Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) itu beredar luas di media sosial.
BACA JUGA: KPAI Ungkap Dugaan Pungutan Rp 1 Juta di Sekolah Anak SD di NTT yang Bunuh Diri
Dalam surat berbahasa Inggris tersebut, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto mengkritik Presiden RI Prabowo Subianto dalam kasus tragis meninggalnya anak SD di NTT karena tidak mampu membeli buku dan pena.
Tiyo secara frontal menyebut Presiden sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kegagalan sistemik negara melindungi anak-anak miskin.
BACA JUGA: Anak SD di NTT Bunuh Diri Penerima PIP, Kemendikdasmen Ungkap Faktor Penyebab
BEM UGM bahkan menggunakan diksi kasar dengan menyebut presiden sebagai “stupid President” atau “presiden bodoh.”
BEM UGM meminta UNICEF membantu memberi tahu Presiden betapa bodohnya ia sebagai pemimpin.
BACA JUGA: Tragis! Anak SD NTT Bunuh Diri karena Tak Mampu Beli Buku, Mendikdasmen Turun Tangan
“Help us to tell Prabowo how stupid he is as a president,” kritik BEM UGM, dikutip dari akun Instagram @bem.ugm, Senin (9/2).
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News


















































