GenPI.co - Anak muda inilah yang membuat saya tidak menulis soal ditangkapnya Presiden Nicolas Maduro. Padahal serangan kilat itu amat dramatik. Pelakunya pasukan Amerika. Lokasinya di negaranya Maduro: di Venezuela --di ibu kotanya: Karakas.
Nama anak muda itu: Efatha Filomeno Borromeu Duarte. Ia menulis soal serangan itu dengan sangat bagusnya. Istimewa. Saya tidak mungkin bisa menulis soal itu lebih baik dari Efatha. Dan lagi tulisan Efatha sudah beredar sangat luas. Dari WA ke WA --termasuk WA Anda dan saya.
Saya pun memberikan pujian langsung kepadanya. Ia merendah. Ia merasa terharu atas pujian saya itu. Tapi saya jujur: tulisan Efatha memang luar biasa. Judulnya Anda sudah tahu. Agak panjang: Operasi 300 menit, Bedah Teknis Penculikan Presiden Venezuela.
BACA JUGA: Catatan Dahlan Iskan: Gagal Sukses
Efatha baru berumur 31 tahun. Ia terlihat sangat menguasai masalah. Utamanya soal pertahanan dan persenjataan.
"Saya dosen geostrategi dan geopolitik," ujar Efatha. "Kebetulan juga mengajar terorisme dan kekerasan politik," tambahnya.
BACA JUGA: Catatan Dahlan Iskan: Jon Moses
Karena itu Efatha harus mempelajari dunia persenjataan. Apalagi ia sendiri sangat senang mengamati dinamika perang.
"Master saya di bidang ilmu pertahanan," ujar Efatha. Yakni di Universitas Brawijaya, Malang.
BACA JUGA: Catatan Harian Dahlan Iskan: Tiga Serangkai
Belum sebulan lalu Efatha meraih gelar doktor. Masih sedikit umur 31 sudah menjadi doktor. Judul disertasinya: Hakekat Pengaturan Robot dan Kecerdasan Buatan di Indonesia.
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News

















































