GenPI.co - Dunia kini memasuki era krisis air. Sungai, danau, dan akuifer mengering lebih cepat daripada kemampuan alam untuk mengisinya kembali.
Puluhan tahun penggunaan air secara berlebihan, polusi, kerusakan lingkungan, dan perubahan iklim telah mendorong banyak sistem air melampaui titik pemulihan.
Laporan dari Institut Universitas PBB untuk Air, Lingkungan, dan Kesehatan (UNU-INWEH) menilai kondisi ini begitu parah hingga memerlukan klasifikasi baru.
BACA JUGA: Legislator PKS Soal Surat Pemprov Aceh ke PBB, Disebut Bukan untuk Menyudutkan
Laporan tersebut mengusulkan istilah "kebangkrutan air", yakni kondisi ketika penggunaan air jangka panjang melebihi pasokan yang tersedia dan merusak alam sedemikian rupa.
Fenomena ini tecermin dari menyusutnya danau-danau besar di berbagai belahan dunia dan meningkatnya jumlah sungai besar yang gagal mencapai laut.
BACA JUGA: Pertumbuhan Ekonomi Global Melambat, PBB: Negara Berkembang Jadi Pendorong Utama
Direktur UNU-INWEH Kaveh Madani mengatakan fenomena ini merupakan peringatan serius bagi para pembuat kebijakan.
"Pemerintah harus berhenti menganggap kelangkaan air sebagai masalah sementara," ujarnya, dilansir AFP, Minggu (1/2).
BACA JUGA: Skotlandia Gelontorkan Dana untuk Palestina, PBB: Ini Jalur Kehidupan
Madani menilai pengakuan terhadap kenyataan pahit ini diperlukan untuk mencegah kerusakan yang lebih besar dan tidak bisa dipulihkan.
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News


















































